Kamis, 08 Desember 2011

Air Mata Alika

H
Ingga detik ini, Alika belum bisa memaafkan ayahnya yang telah pergi meninggalkannya lima belas  tahun yang lalu, ketika ia masih berumur  dua tahun. Seingatnya, ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Bahkan semasa kecilnya ia tak pernah terlintas di benaknya kalau ia mempunyai seorang ayah. Ia tak pernah ingat sedikitpun saat-saat di mana ia masih bersama ayahnya. Usianya saat itu masih terlalu dini untuk merekam momen-momen indah bersama ayahnya dan kemudian mengingatnya pada saat ini.
Tok tok tok…, terdengar suara ketukan di arah ruang tamu.
“Ya, sebentar,” teriak Alika dari dapur. Ia kemudian meninggalkan ibunya yang sedang menyiapkan makan siang menuju ruang tamu.
“Silakan masuk,” ajak Alika kepada orang itu. “Bentar ya, Om,” ia pun meninggalkan tamunya itu dan kembali ke dapur.
“Bu, ada orang tuh, nyariin ibu kali,” ujar Alika sambil mencicipi masakan buatan ibunya.
“Ya dibikinin minum dong. Eh, memangnya siapa yang datang?”
“Nggak tau, Bu. Alika nggak kenal,” jawab Alika.
Dengan sangat hati-hati Alika mambawakan secangkir kopi buatannya untuk pria yang tengah bertamu ke rumahnya itu. Beberapa langkah sebelum ia sampai di tempat ibu dan tamunya duduk, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia mendengar percakapanan ibunya dengan pria itu.
“Dia anak kamu. Ya, Alika,” kata bu Rima, ibu Alika. Keduanya tak menyadari kemunculan Alika yang sedang berdiri tepat di belakang mereka. Kata-kata  ibunya itu membuat Alika tersentak. Tubuhnya terasa lunglai. Tanpa ia sadari, ia menjatuhkan cangkir berisi kopi yang akan ia berikan kepada pria yang ada di hadapannya itu. Ibunya dan pria itu sontak berbalik ke arah Alika dan segera menghampiri Alika.
“Alika, ini papa, Nak,” kata pria yang mengaku sebagai papanya itu dengan mata yang mulai meneteskan butiran-butiran air mata. Sedangkan ibunya tak mampu lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun dan hanya mampu mengungkapkannya dengan air mata.
“Anda jangan bohong. Papa aku udah lama meninggal. Papa aku udah meninggal lima belas tahun yang lalu,” ujar Alika dengan tegas. Tiba-tiba saja ia merasa diliputi rasa benci dan dendam yang amat sangat. Terbayang saat-saat di mana ia sangat mendambakan kasih sayang seorang ayah, tapi ia tak pernah mendapatkannya.
“Maafkan papa, Alika,” pinta pak Harlan dengan dengan penuh harap. Ia menghampiri Alika yang sedang berdiri di hadapannya. Tangannya bergerak menyentuh bahu Alika. Namun, dangan kasarnya Alika menghempaskan tangan papanya.
“Jangan coba-coba menyentuh aku!” bentak Alika.
Ibunya yang sejak tadi hanya bisa menangis kini mulai bersuara, “Alika, cukup! Kamu tidak boleh kasar sama papa kamu. Biar bagaimanapun dia itu papa kandung kamu,” kata ibu Alika dengan suara yang masih sesenggukan.
“Alika mohon, Bu. Jangan paksa Alika buat maafin orang ini. Itu bikin Alika semakin sakit, Bu,” Alika menghela napas dalam-dalam. Ia berusaha agar tetap terlihat tegar di hadapan ibunya. Ia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya yang nyaris tumpah.
“Papa memang  sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup papa yaitu telah meninggalkan kalian selama bertahun-tahun tanpa ada kabar, tapi papa sangat menyesalinya,” pak Harlan mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Ia sangat sedih melihat sikap anaknya yang sangat keras dan enggan memaafkannya.
“Maaf, aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku hanya untuk membahas masalah ini dan mendengarkan kata-kata penyesalan dari Anda. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus aku selesaikan,” ujar Alika kemudian. Ia meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
***

Wajah bu Rima terlihat sangat panik setelah mengangkat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai salah satu pegawai rumah sakit. Alika yang melihat perubahan ekspresi wajah ibunya itu jadi bingung dan penasaran.
“Ada apa, Bu? Kok ibu panik gitu?” tanya Alika. Namun, bu Rima langsung memeluk Alika sambil terisak-isak.
“Lho, ibu kok nangis sih? Ada apa, Bu?” tanya Alika lagi yang semakin bingung. Ia jadi panik melihat sikap ibunya yang aneh.
“Papa kamu, Nak. Dia…,” ibunya tak kuasa meneruskan kata-katanya.
“Orang itu kenapa lagi sih, Bu?” tanya Alika lagi. Namun, kali ini nada bicaranya menunjukkan kalau dia sedang kesal.
“Papa kamu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang sekarat di rumah sakit,” jawab ibunya. Ia melepaskan pelukannya dan kemudian memegang kedua bahu Alika sambil menatap anaknya itu dalam-dalam. “Apakah sekarang kamu masih berkeras untuk tidak memaafkan papa kamu? Biar bagaimanapun, dia tetap papa kamu, Nak” kata bu Rima kemudian.
Timbul rasa iba di hati Alika mendengar kata-kata ibunya. Namun bayang-bayang kebenciannya itu segera mengikis rasa ibanya itu. “Ah, mungkin itu adalah balasan yang diberikan Tuhan atas segala kesalahannya,” batinnya.
“Kalau ibu mau menjenguknya, ibu duluan saja. Sebentar Alika akan menyusul,” Alika berlalau pergi meninggalkan ibunya.
***

Alika terpana melihat pemandangan di hadapannya. Orang yang paling ia benci kini terbaring tak berdaya dengan balutan perban di kepalanya, ditemani ibunya yang terlihat sangat sedih dan seorang anak laki-laki berambut pirang  yang terus saja menangis. Kini kebencian dan rasa dendam yang masih ia pertahankan luluh seketika. Ia menghampiri papanya. Ia seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya.
“Pa...,” masih sulit baginya untuk menyebut kata itu. “Pa-pa…,” Alika langsung memeluk papanya yang dulu sangat ia benci. Air matanya tak terbendung lagi.
“A-lika..., terima kasih,” pak Harlan sangat bahagia melihat sikap Alika yang kini telah berubah.
“Maafin Alika ya, Pa. Alika sayang papa,” ucap Alika diiringi suara isak tangisnya. Namun, papanya tak berkata apapun. Ia merasakan tubuh ayahnya semakin lemah. Tiba-tiba Alika merasa ada yang hilang darinya. Ia melepaskan pelukannya lalu manatap wajah papanya. Wajah yang nampak bahagia seperti telah menemukan mimpi indah dalam tidurnya. Alika merasakan ketakutan yang amat sangat. Ia mencoba membangunkan papanya dengan menggunang-guncang lengan papanya. Namun, tetap saja papanya tak bergeming sedikitpun. Kini, Alika baru menyadari bahwa papanya telah pergi jauh meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Menyadari hal itu, tangis anak laki-laki yang sejak tadi berdiri di sisi Alika yang didampingi oleh bu Rima semakin kencang. Ia membenamkan wajahnya di tubuh papanya yang kini tak bernyawa lagi.
“Dad, don’t leave me alone. Dad.....” ucap anak yang masih berumur empat belas tahun itu.
Ia meraih tangan adiknya yang masih saja menangis itu dan memeluknya. “Don’t cry! What’s your name?” Tanya Alika.
“Alex.”
“I’m Alika. I’m your sister and she’s our mother,” Kata Alika memperkenalkan dirinya dan ibunya pada Alex.
Kini, Alika hanya bisa menangis dan menangis atas semua yang telah terjadi. Kebencian yang dulu ia pendam kini berubah menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
***